Kami juga melayani kelompok orangtua yang membutuhkan informasi terkini mengenai pendidikan, yang tepat dengan perkembangan anak dan zaman. Modul yang kami sediakan adalah sebagai berikut :

  1. Kapan Anak Siap untuk Belajar Menulis ?
  2. Seorang anak dianggap lebih ”pintar” bila dia mahir menulis dalam usia yang masih dini. Betulkah konsep seperti itu? Kalau keliru, bagaimana pengertian yang benar?
    Bagaimana guru dapat melihat bahwa ketika anak berlatih menulis di usia dini, penekanan bukanlah pada menulis halus (yang memerlukan gerak motorik halus) tetapi pada pengendalian kemampuan motorik itu sendiri dan proses kreativitas anak.
    Ketika anak senang belajar menulis, dan mampu mengungkapkan pikiran dan perasaannya melalui tulisan, maka diapun akan lebih mudah untuk dilatih menulis dengan rapih (di tahap dimana dia sudah siap).

  3. Kreatif = Nakal ? Bagaimana Pola Berpikir Lateral yang Tepat ?
  4. Anak yang sering bertanya agak ”aneh-aneh” atau anak yang sering ”mengotak-atik barang” sering dianggap anak nakal.
    Padahal, ilmuwan-ilmuwan muncul justru karena mereka ”bertanya macam-macam”. Bagaimana kita dapat mengembangkan pola belajar mengajar yang justru mengajak anak untuk berpikir ”out of the box”, tetapi tetap dalam konteks satuan pelajaran yang ingin kita capai? Apa pentingnya berpikir lateral bagi masa depan seseorang? Bagaimana kita menciptakan ”innovators” dan bukan ”imitators” dalam pelatihan ini ?

  5. MANDIRI, apa dan kapan anak itu siap ?
  6. Dalam kehidupan sehari-hari sering orang tua sering takut bila meminta anaknya untuk membenahi buku pelajaran, membuat pr sendiri.
    Bahkan sering juga merasa bahwa karena telah membayar pembantu, maka hal-hal kecil seperti , membereskan tempat tidur, menyimpan mainan dan buku yang telah dipakainya pada tempatnya, mengambil makanan dan minuman sendiri, haruslah dikerjakan oleh pembantu.
    Bagaimana pengaruh hal tersebut diatas terhadap masa depan anak kita? Mampukah mereka bersaing di masyarakat? Tahukah anda bahwa kemampuan mengerjakan hal-hal ”sepele” di atas sangat berhubungan dengan perkembangan otak ?
    Workshop ini ingin mengajak peserta untuk memikirkan apa dan kapan Mandiri itu tepat diberlakukan kepada anak kita.

  7. Menghadapi Anak yang Sulit Belajar
  8. Rasanya kesabaran benar-benar diuji ketika anak-anak sulit belajar. Entah karena mereka sulit mengerti bahan yang diterangkan, ataupun sulit berkonsentrasi. Sementara itu, waktu kita sangat terbatas. Bagaimana menolong anak-anak ini? Apa yang bisa kita lakukan? Apa kiat-kiatnya agar bukan hanya mereka lebih mudah memahami, tapi juga tertarik untuk belajar?

  9. Nonton yook…..
  10. Kalau mau santai, ya nonton film. Kalau nonton film, ya tidak belajar. Itu yang seringkali kita pahami. Padahal bisa saja keduanya berjalan bersamaan. Sambil nonton film, kita belajar.
    Pelatihan ini akan menunjukkan beberapa contoh potongan film umum yang cocok untuk usia anak-anak, tetap menarik dan sangat berhubungan dengan mata pelajaran yang didapati di sekolah. Para guru dapat memakainya sebagai bahan diskusi. Para orang-tua dapat memancing pertanyaan-pertanyaan ilmiah dari film tersebut, dan para guru di tempat kursus dapat memberikan nilai tambah pada tempat lesnya. Menonton film tetap dapat dipakai sebagai media pembelajaran.

  11. Pembentukan Anak secara Totalitas
  12. Setiap orang bukan hanya memiliki kemampuan yang beragam, misalnya kognitif tetapi juga kebutuhan untuk bertumbuh secara utuh.
    Karena itu, membentuk anakpun perlu dilakukan secara menyeluruh – baik dari segi kepekaan sosial, rasa ingin tahu yang membangun, sikap hormat terhadap sesama dan lingkungan, maupun pembentukan moral/karakter, dsb.
    Pendidikan sekarang pada umumnya mengkotak-kotakkan ”mata pelajaran” seakan-akan budi-pekerti yang diajarkan dalam waktu terbatas bisa merubah karakter anak. Padahal budi pekerti harus terintegrasi dalam semua aspek kehidupan
    Pembentukan anak secara totalitas membagikan bagaimana kita bisa memasukkan banyak aspek secara terintegrasi.

  13. Pengelolaan Keuangan Sejak Usia Dini. Mungkinkah ?
  14. Anak-anak sering kali merasa bahwa tuntutan keinginan mereka untuk mendapatkan barang/makanan tertentu mutlak dipenuhi sesegera mungkin berapapun nilainya. Sementara itu, para orang-tua merasa bersalah bila mereka tidak mengabulkan permintaan anak-anak mereka.
    Di sekolah, para guru merasa anak-anak begitu mudahnya untuk menghilangkan barang (entah milik pribadi atau orang lain) tanpa rasa menyesal atau bersalah.
    Mungkinkah anak-anak kita ajak untuk mengelola uang saku mereka? Bagaimana caranya? Apa manfaatnya bagi masa depan mereka ?

  15. Siapa yang terdekat dengan anak kita – TV ? Pengasuh ? Orang-tua ? Guru ?
  16. Tuntutan ekonomi sering membuat orang tua menjadi sibuk dan tidak punya waktu lagi anak. Anak menghabiskan waktu ”premium”nya di sekolah, les, atau menonton TV. Bagaimanakah kita dapat menyiasati keterbatasan ini dimana anak-anak kita tetap dapat menjunjung tinggi nilai yang ada dalam keluarga, tetapi bukan karena rasa takut dimarahi.

  17. Bagaimana Memilih Sekolah
  18. Banyak sekolah sekarang ini menawarkan bentuk-bentuk pendidikan yang beragam. Masing-masing berusaha menarik “client”nya dengan iklan-iklan seperti misalnya, kurikulum internasional, kurikulum nasional plus, metode aktif, multiple intelligence, dan lain sebagainya. Tidak heran bila orang tua bingung. Tentunya, mereka ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Bagaimanakah seharusnya para orang tua memilih sekolah untuk anak-anaknya.

  19. Pemahaman Arti Sekolah Bertaraf Internasional
  20. Pemerintah sudah menetapkan peraturan mengenai Sekolah Bertaraf Internasional melalui Undang-undang dan Peraturan Pemerintah. Sementara itu, banyak sekolah dan orang tua masih bingung mengenai apa yang dimaksud dengan SBI, apa bedanya dengan Nasional Plus, ataupun sekolah-sekolah lainnya. Penjelasan mengenai Sekolah Bertaraf Internasional dan kriteria-kriterianya perlu diberikan sehingga sekolah dan orang tua mempunyai pemahaman yang tidak keliru.